Boneka Satu Mata

Monday, December 16, 2019 : 13:45
Cerpen - Boneka Satu Mata (foto: freepik.com)

Sore itu di jalan setapak. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu atau ayah mendampingi.

Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu atau ayah mendampingi, di sampingnya ada boneka. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu atau ayah mendampingi, di sampingnya ada boneka perempuan. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu atau ayah mendampingi, di sampingnya ada boneka perempuan dengan rambut kepang.

Baca cerpen lainnya : Selepas Rasamu Sirna

Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu atau ayah mendampingi, di sampingnya ada boneka perempuan dengan rambut kepang berwarna coklat. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu atau ayah mendampingi, di sampingnya ada boneka perempuan dengan rambut kepang berwarna coklat, saat kuperhatikan lagi. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu atau ayah mendampingi, di sampingnya ada boneka perempuan dengan rambut kepang berwarna coklat, saat kuperhatikan lagi boneka dari rajut itu.

Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu atau ayah mendampingi, di sampingnya ada boneka perempuan dengan rambut kepang berwarna coklat, saat kuperhatikan lagi boneka dari rajut itu hanya ada satu mata. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu atau ayah mendampingi, di sampingnya ada boneka perempuan dengan rambut kepang berwarna coklat, saat kuperhatikan lagi boneka dari rajut itu hanya ada satu mata, sementara mata lainnya. Sore itu di jalan setapak saat aku berjalan santai sembari mendengarkan lagu favorit, aku melihat gadis kecil duduk di bangku menangis terisak seorang diri tanpa ibu atau ayah mendampingi, di sampingnya ada boneka perempuan dengan rambut kepang berwarna coklat, saat kuperhatikan lagi boneka dari rajut itu hanya ada satu mata, sementara mata lainnya digenggam gadis kecil itu.

Gadis kecil itu lalu mencoba menempelkan mata yang terlepas pada tempatnya. Sembari meneteskan air mata pilu. Ia peluk boneka usang itu.

Bandar Lampung, 17 September 2019
Share this Article

Saat ini 0 Comments :