Selepas Rasamu Sirna

Monday, December 16, 2019 : 12:36
cerpen - selepas rasamu sirna (foto: freepik.com)

Sudah dua jam sejak laptop ini kunyalakan. Namun, tak ada sepatah kata pun aku ketik. “Kemana ide-ide yang kemarin berceceran itu?” pekikku dalam hati. Sungguh aku menyesal menjadi seorang pelupa. Tapi, siapa juga yang ingin dilahirkan sebagai pelupa. Andai saja kemarin handphone-ku tak tertinggal, dan andai saja buku catatan kecilku tak jatuh entah dimana. Aku pasti sudah asyik merangkai kata di tepi danau itu.

Tapi tak apa, ini hanya soal seberapa kuat aku mengalahkan kebuntuan ini. Seberapa sanggup aku duduk lebih lama di depan layar canggih ini, yang pasti aku harus segera menyelesaikan tulisan ini. Toh, tulisan-tulisanku sebelumnya juga melewati proses yang a lot sampai akhirnya bisa dibaca oleh banyak orang. Seperti tulisan pertamaku yang tidak hanya soal menemukan kata, lalu merangkainya begitu saja. Waktu itu aku malah harus mengolah sakit yang sangat menjadi cerita yang rapi. Ironi yang ternyata menjadi titik balik hidupku saat ini.


Ah kamu, Terimakasih telah pergi tanpa segalanya. Tanpa rasa, tanpa pamit…


Aku masih ingat saat terakhir kali bertemu dengannya—di malam aku mengutarakan keinginanku untuk menikahinya. Ia nampak anggun dengan gaun merah—warna kesukaannya. Dengan percaya diri, aku menyodorkan kotak merah berisikan cincin emas dengan mata berlian di tengahnya.


"Siska, di malam yang indah ini, bersama kerlip bintang sebagai saksi, dan cahaya bulan yang malu-malu, aku ingin mengatakan, bahwa tak ada perempuan yang paling kucintai selain ibuku, kecuali kamu seorang."


"Siska Febriyana.. maukah kau menikah denganku?" lanjutku dengan mantap.


Seketika Siska terdiam. Tak sepatah kata pun terdengar. Diiringi dengan mata yang berkaca-kaca, raut wajahnya perlahan memudar.


"Sis... Will you marry me?" Kucoba mengulangi pertanyaan yang akan mengubah hidupku.


Ia masih juga diam. Kini diamnya ditambahi oleh air mata beserta isaknya. Rasaku pun mulai berubah tak karuan. Cemasku beranak pinak.


"Maaf Dha," kata terakhir yang diucap oleh Siska saat itu. Tidak ada tambahan kalimat apa pun atau sedikit saja penjelasan yang keluar dari mulutnya.  Ia malah berlari meninggalkan aku.


"Siska tunggu!" panggilku sambil mengejarnya.


Sampai sekarang aku masih tak mengerti mengapa ia meninggalkanku begitu saja. Padahal sudah bertahun-tahun kami menjalin hubungan kekasih. Sebelum itu juga kami sudah berandai-andai tentang masa depan kami.


Di saat aku masih termangu di depan laptop, tiba-tiba Pak Haris menelpon.


"Pasti Pak Haris mau nagih naskah nih," tebakku.


"Halo," Kuangkat telepon dari editor penerbit buku ternama di Indonesia itu.


"Halo Yudha, gimana nih buku keduamu? Progresnya sudah sampai mana? Jangan kelamaan ya, kita harus nerbitin buku ini sebelum bazar buku terbesar itu. Biar waktunya pas nih." Tanyanya panjang lebar.


"Iy.. iya pak bakal beres dalam waktu dekat ini. Udah, bapak tenang aja deh," Jawabku mencoba meyakinkannya.


Setelah mematikan telepon dari pak Haris. Jariku kembali menari di atas keyboard laptopku. Satu persatu kebuntuan mulai mencair. Kata demi kata mengalir dari alam pikiranku ke arah layar laptop. Sebenarnya aku yakin bisa menyelesaikan buku ini sebelum deadline yang diberikan pak Haris. Lalu memastikan buku keduaku bisa terpampang di bazar terbesar buku tahun ini.


Memang di awal agak sedikit sulit memulai proses pembuatan buku keduaku ini. Sebab aku harus membagi waktuku ke zona sibuknya masing-masing. Lebihnya lagi buku ini sedikit berbeda dari bukuku sebelumya. Kali ini aku coba memasukkan soal sosial; ketidakadilan dan penindasan yang terjadi di tengah masyarakat kita dengan alur dan bahasa yang bisa diterima generasi muda saat ini. Maklum, budaya anak muda terus berkembang sementara budaya baca tetap apa adanya. Jadi aku harus berpikir keras untuk menyajikan ini dengan sesederhana mungkin.


Setelah mengetik beberapa halaman, aku memutuskan untuk melanjutkannya di kedai kopi milik temanku. Kedai kopi milik Bimo ini memang asyik untuk menyalurkan ide-ideku ke tulisan. Tempatnya nyaman, dengan gaya vintage Bimo juga sengaja memanfaatkan sudut ruang sebagai perpustakaan kecil. Ia beralasan, membuka kedai kopi tak hanya sebagai upaya mencari rupiah, tapi juga untuk meningkatkan minat baca anak muda.


Tiba di kedai kopinya yang tak jauh dari rumahku, ternyata Bimo sedang tidak di tempat. Biasa, semenjak membuka bisnis pakaian, ia jadi harus membagi waktu untuk kedua bisnisnya.

cerpen - selepas rasamu sirna (foto: freepik.com)

Aku sengaja memilih meja dekat jendela, Setelah memesan coffee latte, aku kembali membuka laptop dan melanjutkan ceritaku yang masih mengambang sambil mendengarkan lagu Stay milik Post Malone dengan earphone.

Tak lama, seorang gadis dengan pakaian kasual duduk tepat di bangku depanku. Mataku pun mau tak mau tertuju pada gadis itu.


Kenapa harus duduk semeja dengan ku? Tanyaku dalam hati.


"Maaf mas, boleh berbagi tempat?" tanyanya.


Aku masih diam sembari menatapnya dengan bingung. Bingung kenapa ada wanita cantik yang tiba-tiba mau duduk semeja denganku.


"Mas...mas?" Tanyanya lagi.


Sontak aku pun terbangun dari lamunan bingungku.


"Ah iya bagaimana?" tanyaku balik.


"Boleh kita berbagi meja? Meja yang lain penuh,” ungkap gadis itu.


Aku pun menoleh ke seluruh penjuru kedai kopi ini. Ya, memang benar semua meja terisi. Meskipun ada bangku lain yang kosong.
"Silakan," jawabku sekenanya sambil mengembalikan tatapanku ke layar laptop.

"Okay makasih." ujar gadis itu.


Beberapa menit kami terjebak pada suasana hening. Pikiranku terjebak pada satu tanya siapa perempuan anggun di depanku ini.


"Kamu sendiri?" tanyaku tiba-tiba sambil menutup laptop.


"Iya," jawabnya singkat.


"Suka kopi?" tanyaku lagi.


"Teh," jawaban yang sama singkatnya.


"Lalu kenapa kesini?" tanyaku heran.


"Menangkap suasana ramai. Bosan aku di rumah dikerubungi sepi," jawab gadis itu.


"Yudha," ujarku sambil menjulurkan tangan, sebagai tanda perkenalan.


Agak lama ia menanggapi tanganku.


"Wita," Ia juga menjulurkan tangannya dengan perlahan.


Tak lama minuman yang ia pesan datang, dan jelas itu bukan teh. Di sini hanya menjual berbagai minuman olahan kopi.


"Kamu baru ya di sini?" tanyaku lagi.


"Iya aku baru pertama kali ke kedai kopi ini. Dan yang pasti aku juga baru di kota ini," jawabnya yang tidak lagi sesingkat seperti jawaban perempuan yang baru akan datang bulan.


"Suka ke pantai?" tanyaku mulai sok akrab.


"Pantai mana yang paling indah di kota ini? Bisa ajak aku kesana?" tanyanya penuh penasaran.


Baiklah, jawaban yang tepat. Tak ada salahnya kan jalan dengan wanita yang baru kukenal. Pikirku dalam hati.


"Besok jam tiga sore kita bertemu lagi di sini ya. Melihat sunset di pantai pasti menyenangkan," jawabku dengan mantap.



Tepat pukul tiga sore ia sudah menungguku di kedai kopi. Sepertinya dia tidak sama dengan kebanyakan wanita lain, yang lupa tepat waktu karena alasan berdandan. Dengan t-shirt putih dan setelan jeans ditambah tas imut pada pundaknya membuat ia tampak berbeda dengan pertemuan pertama kami. Sebenarnya jauh di pikiranku terbesit tanya. Kenapa gadis ini percaya padaku. Ah tapi sudahlah.


Dengan sepeda motor klasik milikku, akhirnya kita berangkat menuju pantai. Kali ini bukan untuk bermandi ria seperti anak-anak yang lahir di pesisir persada. Kami hanya ingin melihat si senja pulang ke rumahnya lewat perantara langit dan laut.


"Dha kita mau kemana?" tanyanya di belakangku.


"Laut", sahutku.


"Iya tau, tapi dimana? Jauh? Pulangnya malam?," aku dicecar pertanyaan.


"Sudah... ikut saja. Nanti juga tau. Sebelum mamamu menelpon, kupastikan kamu sudah di rumah." jawabku.


"Okay. Baiklah."


Tak ada satu pun kata yang terucap di antara kami selama perjalanan. Hening. Entah apa yang ada di pikirannya. Akhirnya, setelah satu jam perjalanan kami sampai di tujuan.


"Dermaga Dha? Mana pantainya?" tanyanya bingung.


"Iya dermaga, Ta. Mau tau indahnya dimana? Tunggu ya setengah jam lagi," kataku.


Saat kami tiba masih pukul lima sore. Dan sunset biasanya nampak mendekati jam setengah enam. Sembari menunggu kuajak Wita ke warung kopi dekat dermaga yang biasa kukunjungi. Orang di sini menyebutnya Warkop Bu Ina.


Buatku ini bukanlah tempat yang asing. Sebab beberapa tahun yang lalu waktu soreku banyak kuhabiskan di ujung dermaga ini. Aku pikir saat itu mengadu sepi dengan suara debur ombak bisa menjadi obat untuk hati yang patah.


Setelah memesan dua minuman, alangkah terkejutnya aku melihat sosok wanita yang sangat akrab bagiku di masa lalu. Aku sempat terdiam sejenak. Entah harus berekspresi seperti apa. Mataku terus menatapnya, sekujur tubuhku kaku, pikiranku melanglang buana, seperti menarikku kembali ke peristiwa beberapa tahun silam.


Siska. Iya, yang kulihat itu adalah Siska!


Ia tak sendiri, ia duduk bersama seorang pria dengan perawakan tubuh tinggi. Ia duduk agak jauh dari tempatku berada, dan aku yakin ia tak menyadari keberadaanku. Ia memunggungiku sementara pria itu duduk di sampingnya.


"Dha?" panggil Wita.


Seketika aku pun tersadar bahwa aku sedang tidak sendiri. Jujur, saat itu perasaanku seketika campur aduk namun kucoba secepat mungkin memperbaiki keadaan.


"Eh iya, Ta."


"Kamu kenapa?" tanyanya lagi.


"Gak apa-apa kok." jawabku singkat.


Aku tidak mungkin menceritkan Siska pada Wita. Rasanya tidak lucu menceritakan masa lalu pada orang baru. Bisa jadi Tuhan sengaja menghadirkan Wita dalam hidupku sebagai pelipur laraku selama ini. Jika pun aku harus menceritakan tentang masa laluku, waktunya yang tepat bukanlah saat ini.


"Oh begitu, baiklah." sahutnya.


Rasanya, segala bentuk pertahananku selama ini untuk membangun benteng agar ingatanku tak kembali ke masa lalu sia-sia. Dan aku sangat berharap untuk menyadari bahwa yang kualami ini adalah mimpi. Aku coba mencubit punggung tanganku, sakit! Ini bukan mimpi. Tapi sungguh ini kenyataan yang buruk.


Aku sangat tidak memiliki keberanian untuk menghampiri Siska. Barang untuk sekadar menyapa, atau bertanya mengenai suatu hal yang selama ini mengganjal di pikiran. Biarlah, aku biarkan saja diri ini untuk tidak pernah tahu mengapa ia pergi meninggalkanku. Mungkin, itu memang yang terbaik.


Kakiku semakin lemah untuk menopang tubuh ini, aku mengajak Wita untuk pergi meninggalkan tempat itu.

---
Share this Article

Saat ini 0 Comments :