[Sebuah Cerpen] Kakak Pergi dan Tak Kembali

Thursday, April 30, 2020 : 16:52
[Sebuah Cerpen] Kakak Pergi dan Tak Kembali
[Sebuah Cerpen] Kakak Pergi dan Tak Kembali - Ilustrasi

Ini malam Kamis dan di luar hujan deras. Tepat sebulan yang lalu, di malam yang sama kakak pergi mencari makan untukku. Kami hanya tinggal berdua. Aku menunggu, namun sampai fajar menyingsing kakak tak kunjung pulang.

"Apakah kakak berjalan begitu jauh hingga ia lupa jalan pulang?" Aku membatin.

Sebenarnya aku mulai rusuh hati, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Sebelum menebas malam yang sunyi untuk mencari pengganjal perut, kakak berpesan padaku, "Tunggu saja di sini, kakak akan mengisi perutmu, sebentar lagi kau akan tidur nyenyak."

Aku tak ingat saat itu sudah pukul berapa, tapi di luar guntur terdengar dengan jelas. Hujan semakin lebat, seiring suara perutku yang mulai menggemuruh.

Berjam-jam aku menanti kakak pulang namun seujung batang hidungnya pun belum juga nampak. Sampai akhirnya tanpa sadar aku mulai memasuki alam mimpi.

***

Tidur di bawah rintikan hujan semalaman begitu melenakan. "Sepertinya mentari datang begitu terburu-buru. Atau aku yang begitu pulas tertidur?" Entahlah.

Suara perutku yang lapar seketika mengingatkanku pada kakak yang masih juga tak kunjung pulang. Rasanya ingin sekali aku keluar mencarinya. Tapi lagi-lagi aku terikat pada pesannya semalam.

Setelah menimbang-nimbang segala hal, aku abaikan pesan kakak. Aku tak bisa terus menerus dihantui rasa gelisah, apalagi perutku sudah tak tahan lagi dalam keadaan kosong.

Aku beranikan diri keluar, aku terus berjalan mengikuti langkah kaki. Tak ada jejak kakak sama sekali. Aku hanya berbelok ketika hati nuraniku yakin bahwa jalan itulah yang kakak lewati.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan sekumpulan kecoa lainnya. Ups, sepertinya aku lupa memberitahu kau bahwa aku adalah seekor kecoa yang sering kau semprot dengan pestisida di rumah.

Aku penasaran hal menarik apa yang membuat mereka berkerumun di pojok tembok Musala. "Permisi," ujarku lirih.

Seketika semua kecoa menatapku bersamaan dalam hitungan detik. Maksudku, kami sejenis, mengapa mereka menatapku seoalah aku nampak aneh?

"A... aku mencari kakakku yang pergi semalaman dan hingga kini belum pulang. Apakah di antara kalian ada yang melihatnya?" Tanyaku penuh harap barang satu ekor di antara mereka ada yang tahu keberadaan kakak.

"Apakah kakakmu pergi ke arah Selatan semalam?" Tanya seekor kecoa yang paling tua.

"Aku tak tahu ke arah mana kakak pergi. Yang aku tahu kakak pergi untuk mencari makan untukku." Jawabku lugu.

"Benar. Mungkin yang dia maksud adalah kecoa yang mati mengenaskan tadi pagi," Jawab kecoa betina yang lumayan cantik.

Sontak aku terkejut. Aku berharap kecoa yang dia maksud bukanlah kakak.

"Apakah kau tinggal di dapur kumuh rumah paling ujung yang tak berpenghuni itu?" Sekali lagi kecoa paling tua menanyaiku.

Kali ini aku tak bisa menyangkal pertanyaannya. "Ya, sudah dua bulan sejak orangtua kami keracunan, aku dan kakak pindah di sana." Jawabku lemas.

"Malang sekali kau! Orangtuamu mati keracunan, dan pagi ini kau mendapat kabar kakakmu mati mengenaskan." Jawab kecoa tua.

Sungguh, aku ingin bertanya lebih detil mengenai kematian kakak. Tapi lidahku kelu, peluh dingin bercucuran.

Seolah kecoa tua itu tahu apa yang ada dalam pikiranku. Ia mulai bersuara lagi.

Baca Juga : Selepas Rasamu Sirna

"Aku mendengar kabar dari kecoa yang tinggal di warung makan pinggir jalan, tepat setelah jembatan penyebrangan di sana. Saat tadi pagi ia hendak keluar, ia mendapati kakakmu mati mengenaskan depan pintu. Kepalanya hampir putus, isi perutnya keluar, kaki sebelahnya entah kemana. Ia mengenal kakakmu, karena dua hari yang lalu kakakmu sempat ke warung makan yang terkenal lezat di perkampungan ini untuk meminta sisa makanan para pengunjung. Ia tak tahu mengapa kakakmu bisa mati di sana."

Mataku mulai berkaca, tak sanggup menahan tangis. Aku mulai terisak. Sebenarnya aku malu menangis di depan kecoa yang lumayan cantik itu. Dimana harga diriku?

"Tetapi, kecoa yang suka berjaga-jaga di tikungan bedeng belakang itu melihat kakakmu semalam bersembunyi ke dalam sepatu manusia yang dibiarkan saja di luar rumah. Kakakmu bersembunyi karena dikejar kucing oranye yang terkenal bengis di kawasan ini. Kecoa yang berjaga-jaga itu tak berani menolong karena ia juga takut dan semalam halilintar begitu ganas." Lanjut si kecoa tua.

"Sampai akhirnya mayat kakakmu tergeletak di warung makan itu. Menurutku, kakakmu mati karena terjebak dalam sepatu. Mungkin ia kelelahan sampai tertidur di dalamnya, dan mendapati pagi datang dengan cepat. Berdasarkan apa yang diketahui kecoa penjaga, manusia pemilik sepatu itu selalu terburu-buru pergi di pagi hari. Mungkin ia juga tak sadar ada kakakmu di dalam sepatu yang ia kenakan. Dan sepertinya, manusia itu pergi ke warung makan dan baru menyadari ada yang mengganjal di sepatunya. Lantas ia membuang kakakmu begitu saja di sana." Jelas kecoa tua.

Tangisku meledak semengejutkan saat Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Semua kecoa mentapku nanar, termasuk kecoa cantik yang mulai menarik perhatianku.

Kecoa tua mengelus pundakku, simbol menenangkanku dari hancurnya hati ditinggalkan kakak satu-satunya. Saking aku sedihnya karena kakak mati, sampai-sampai rasa laparku hilang seketika.

***


Bandar Lampung, 30 April 2020
Share this Article

4 comments:

  1. Antara gua pengen nangis dan nahan ketawa... Gimana si

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ya begitulah... semoga terhibur ya😂

      Delete
  2. Ku penasaran baca prolognya.
    Begitu baca di pertengahan, ya elaaa... Zonk!! Haha...

    Tapi keren sih cerpennya.
    Ku suka!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi kena deh.. semoga terhibur ya :)

      Delete

Terimakasih ya sudah berkunjung dan membaca artikel di blog ini. Komentar kamu akan muncul setelah disetujui, SPAM dan link hidup otomatis dihapus.