[Sebuah Cerpen] Ayah Sang Harapan Terakhir

Tuesday, May 12, 2020 : 21:06
Sebuah_cerpen_ayah_sang_harapan_terakhir
[Sebuah Cerpen] Ayah Sang Harapan Terakhir

Setiap Minggu, Ana tak punya harapan apa pun di sudut kamar sempit itu. Melalui kaca jendela kotak-kotak, gadis kecil itu melihat teman-temannya asyik berlarian di tanah lapang seberang rumah. 

Ada pula seorang teman sekelas ditemani sang ibu yang membawa semangkuk sup. Sang ibu menyuapi si anak.

"Andai saja mama masih hidup, mungkin aku juga sedang disuapi olehnya," ujar Ana sedih.

Pintu kamar Ana terbuka, ada ayah di baliknya. Ia masuk, dan memeluk Ana dengan penuh kasih. Ana membalas pelukannya. Ayah seolah tahu apa yang sedang dirasakan anak semata wayangnya itu.

"Ayah kok sudah pulang kerja?" Tanya Ana.

"Ayah sengaja pulang lebih awal, supaya bisa bermain dengan kamu," ujar Ayah seraya tersenyum.

Ayah duduk di ranjang Ana, mereka berbincang banyak hal, membaca buku cerita, dan bermain boneka.

"Ana... Ana sayang gak sama ayah?" Tanya ayah seketika.

"Ya jelas sayang dong, ayah." Jawab Ana dengan penuh riang.

"Mama sekarang sudah bahagia di surga, nak. Kalau Ana sendirian di rumah jangan sedih ya," ucap ayah sambil mengelus kepala Ana.

"Nggak sedih dong ayah, kan ada ayah. Tapi, ayah harus janji untuk selalu ada buat Ana. Besok kita baca buku cerita bareng lagi ya yah," pinta Ana.

Ayah tak menjawab, ia hanya tersenyum lebar dan mendaratkan kecupan di kening Ana.

Malam itu Ana tidur dengan nyenyak, ia sangat bahagia Minggunya kali ini begitu menyenangkan.

Sambil menutup pintu kamar Ana pelan-pelan, ayah tersenyum melihat anak semata wayangnya itu. Di dalam hatinya ia merasa bersalah, selama ini ia tak banyak menghabiskan waktu untuk Ana. 

Ana berpikir bahwa ayahnya hanya sibuk dengan pekerjaannya, sampai sering pulang larut malam bahkan kadang tak pulang. Padahal, sebenarnya ayah sering bolak balik masuk rumah sakit akibat TBC yang dideritanya. Ayah tak mau melihat Ana semakin sedih, sehingga ia merahasiakan penyakitnya tersebut.

Ayah yang sedang sedih, berpikir kacau bagaimana jika penyakitnya tersebut semakin parah dan sampai merenggut nyawanya. "Ana pasti sedih dan tak punya siapa-siapa lagi,".
Share this Article

3 comments:

  1. OMG! Ayahnya juga sakit??? Wadooww kalo TBC itu kan musti hati2. Bisa nular ke Ana juga huhuhu

    ReplyDelete
  2. jadi pengen tau gimana kelanjutan Ana sama ayahnya.. :)

    ReplyDelete
  3. lanjutin dong ceritanya....please kan penasaran. terus ayahnya gimana?

    ReplyDelete

Terimakasih ya sudah berkunjung dan membaca artikel di blog ini. Komentar kamu akan muncul setelah disetujui, SPAM dan link hidup otomatis dihapus.