Dipaksa - Terpaksa - Bisa - Biasa | Membentuk Kebiasaan

Monday, August 3, 2020 : 12:26
Dipaksa  Terpaksa  Bisa  Biasa  Membentuk Kebiasaan
Dipaksa - Terpaksa - Bisa - Biasa | Membentuk Kebiasaan

Mungkin sebagian di antara teman-teman sudah gak asing dengan pernyataan ini?

Dipaksa - Terpaksa - Bisa – Biasa adalah sebuah rumus untuk membentuk sebuah kebiasaan. 

Biasanya dialami oleh anak di sekolah, santri di pondok, bahkan juga orang dewasa dalam menjalani pekerjaannya.

Banyak hal dalam hidup yang kita lakukan berawal dari sebuah keterpaksaan. Namun, meskipun melakukannya dengan terpaksa, tetapi menghasilkan sebuah kebiasaan yang baik untuk kita.

Pengertian Terpaksa Menurut KBBI

Terpaksa/ter·pak·sa/ v berbuat di luar kemauan sendiri karena terdesak oleh keadaan; mau tidak mau harus; tidak boleh tidak.
Tanpa disadari, banyak kebiasaan-kebiasaan yang kita jalani saat ini adalah berawal dari sebuah keterpaksaan. Trus menyesal? Jangan! 

Kata Jamil Azzaini, otot manusia itu memiliki meylin yang jika digunakan untuk terus bekerja maka ia akan terbiasa dalam bekerja keras.

Jadi bisa kita katakan bahwa “terpaksa” adalah pintu untuk menuju hal hebat. Maksudnya?

Ambillah contoh bangun pagi, bagi kebanyakan orang – mungkin hampir semua orang – mulanya merasa berat untuk bisa bangun jam 5 atau 6 setiap paginya.

Tetapi karena keadaan yang mengharuskan untuk bangun pagi, seperti harus berangkat bekerja, sekolah, harus meyiapkan sarapan untuk keluarga, dan lain sebagainya. Mau gak mau kita harus membiasakan diri kita untuk bangun pagi.

Dari terpaksa bangun pagi, yang kita lakukan selama beberapa hari lama-lama kita menjadi terbiasa. Bahkan, kita bisa bangun di jam yang sama tanpa harus menggunakan alarm.

Ada yang pernah mengalaminya?

Dipaksa - Terpaksa - Bisa - Biasa | Membentuk Kebiasaan
Membentuk Kebiasaan dari Keterpaksaan

Dipaksa

Gak semua anak senang pergi ke sekolah, tapi mengingat itu adalah sebuah kewajiban demi kebaikan si anak. Akhirnya anak dipaksa berangkat sekolah oleh orangtuanya.

Meskipun akan menimbulkan penolakan dari yang dipaksa, dan cukup menguras tenaga bagi yang memaksa. 

Ada satu hal yang menurutku sepele tapi ternyata berdampak baik dalam hidupku. Dulu, saat masih kerja di kantor, bos selalu menyuruh semua karyawan untuk fast respond membalas kalau ada atasan atau siapapun yang mengirim pesan di grup.

Menyuruh sih ya bukan memaksa, tapi kalau tiap waktu nyuruh jadi seperti “dipaksa” ya kan?
Walaupun hanya sekadar ucapan “selamat pagi”, atau perintah lainnya yang hanya layak dibalas “okay, siap pak” dan lain-lain.

Terpaksa

Karena dipaksa, mau gak mau kita terpaksa melakukan sesuatu. Sama kasusnya dengan pengalamanku di atas.

Mau gak mau, semua karyawan “terpaksa” harus meluangkan waktunya untuk sekadar merespon pesan di grup.

Kadang mikir, “kenapa sih gitu banget?” “ih males banget sih harus ‘sok ramah’ di grup”, dan lain sebagainya.

Tapi, karena yang memaksa adalah bos apa daya kita yang hanya karyawannya?

Bisa

Lama kelamaan rasa 'terpaksa' akan hilang dengan sendirinya, seiring kita terus melakukan hal yang dipaksakan tersebut.

Lanjut ke pengalamanku, yang awalnya terpaksa harus respon di grup, dan sebenarnya malas campur bingung harus respon. Lama kelamaan, saat ada notif grup langsung dengan sendirinya membalas pesan tanpa merasa 'terpaksa'.

Hal ini karena otak kita sudah terlatih untuk melakukan hal yang sama saat kondisi yang sama terjadi.

Biasa

Karena rasa 'terpaksa' sudah hilang, lama-lama akan menjadi kebiasaan yang tanpa kita sadari melekat dalam diri.

Sampai sekarang, meskipun aku sudah gak bekerja lagi di kantor tersebut, karena aku memutuskan untuk menjadi freelance content writer, aku jadi kebiasaan untuk fast respond membalas pesan dari klien.

Memang apa dampaknya sih?

Memang gak serta merta terasa, tapi dengan aku fast respond, klien jadi merasa dihargai. Serta jadi menghemat waktu klien karena gak perlu harus menunggu waktu lama untuk mendapat balasan dari aku.

Apalagi karena aku menjalani pekerjaan dari jarak jauh, kalau bukan lewat chat atau telepon, gimana klien bisa berkomunikasi dengan aku kan?

Ribet kalau ada brief atau revisi yang harus dikerjakan, sementara aku lambat dalam memberikan respon. Bisa-bisa klien gak puas dan akhirnya kabur. Hihi...

Kebiasaan sederhana ini pada akhirnya menjadi poin plus untuk pekerjaanku. Hal ini aku tau dari penilaian klien yang memberikan nilai sempurna untuk kategori komunikasi pada setiap proyek.

Lagipula aku meyakini, selain dari kualitas pekerjaan. Komunikasi yang baik dan cepat juga jadi penilaian seorang klien dalam mengajak kerjasama seorang remote worker.

Keterpaksaan Lainnya...

Banyak 'keterpaksaan' dalam bentuk lainnya. Seperti, kebiasaan membaca Al-Quran dan ini pernah kualami saat memberikan bimbingan ke murid.

Dia merasa terpaksa banget setiap aku suruh mengaji, malas-malasan, ngambek-ngambekan dulu. Ujung-ujungnya bacaannya jadi banyak yang salah dan aku tegur bikin dia tambah ngambek.

Tapi, setelah hampir dua tahun bimbingan baca Al-Quran akhirnya dia lebih sedikit ngambek, justru selalu antusias karena ditambah aku selingi dengan kegiatan seru saat proses belajar.

Kasus lain juga aku sangat rasakan dalam hal menulis. Aku mulanya selalu kesulitan menulis artikel dengan gaya feature, karena dulu kebiasaan menulis naskah berita yang cenderung lebih kaku.

Tapi karena tuntutan pekerjaan, mau gak mau dong harus bisa menulis artikel? Jadi, setiap hari aku coba dan terus coba menulis artikel seluwes mungkin untuk melepas kesan 'naskah berita' kebiasaan lama.

Ternyata gak mudah, sempat kena tegur atasan karena belum sesuai dengan gaya artikel yang dia mau. Tapi, lagi-lagi karena dorongan keadaan dan terus mengulangi kegiatan tersebut sambil belajar, sekarang menulis artikel semudah ngetik dengan 10 jari. (Halah sombong)😂

Kesimpulan

Intinya, paksalah diri kita untuk melakukan sesuatu yang dampaknya baik bagi diri kita. Memang awalnya marah, kesal, terpaksa akan kita rasakan. Tapi, pada akhirnya akan membentuk kebiasaan yang berdampak baik untuk hidup kita ke depannya.

Sebenarnya masih banyak ‘keterpaksaan-keterpaksaan’ lainnya yang lama-lama jadi kebiasaan. Pasti kamu juga pernah mengalaminya, kan? Yuk share pengalamanmu di kolom komentar! Ingat ya, Dipaksa - Terpaksa - Bisa - Biasa untuk Membentuk Kebiasaan.


Share this Article

2 comments:

  1. Kok sepertinya cerita mba terbalik dengan saya ya😂 Dulu saya malah fast response banget orangnya, tapi karena sejak corona banyak kegiatan yg dilakukan secara daring, lama-lama saya ngerasa exhausted gitu mba harus fast respons terus, akhirnya sering ngilang buat istirahat sejenak dari segala urusan, eh sampe sekarang malah kebiasaan nunda2 bales chat huhu😟

    ReplyDelete
  2. Kalo kata Ibu saya mah, Allahumma maksakeun. Kalo nggak dicoba ya nggak tahu dan nggak bisa.

    Saya sering juga mengandalkan quote itu dalam hal keterpaksaan. Seringkali karena terlalu mengandalkan orang lain, malah saya jadi nggak bisa ngelakuinnya. Semenjak menikah hal kek gini kerasa banget sih. Makanya, saya sedang mengurangi nih, agar biasa melakukan hal2 yang biasanya laki2 lakuin biar saya bisa lakuin juga.

    Kerasa banget sih, ada kepuasan tersendiri lho, lebih menghargai dan mengakui pada diri sendiri, bahwa kamu itu bisa kok. Coba lakukan, gitu kurang lebih..

    ReplyDelete

Terimakasih ya sudah berkunjung dan membaca artikel di blog ini. Komentar kamu akan muncul setelah disetujui, SPAM dan link hidup otomatis dihapus.