Buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura

Wednesday, November 11, 2020 : 20:16
Buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya Kisah Sufi dari Madura
Buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya Kisah Sufi dari Madura

Setahun belakangan aku bersyukur bisa dipertemukan secara virtual dengan teman-teman sehobi. Ya, mereka para blogger yang gemar membaca dan menulis dan menuangkan isi pikiran mereka dalam postingan di blog.

Sejak Senin lalu aku mengikuti Tanos Reading Challenge gagasan kak Eka dan kak Renov, buku pertama yang jadi pilihanku adalah karya Rusdi Mathari yang berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya.

Buku yang sarat nasihat agama ini terus ‘menamparku’ pada setiap babnya. Banyak hal yang sebenarnya tak bisa kuceritakan pada tulisan ini, karena pesan si penulis akan sangat terasa jika kamu membacanya sendiri.

Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

Identitas Buku

Judul                        : Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya
Penulis                     : Rusdi Mathari
Penerbit                   : Mojok
Genre                       : Agama
Tebal Buku              : 226 Halaman
Harga                       : Rp 68.000
Cetakan Keempat    : Juli, 2018

“Mat, sesuatu yang diwajibkan adalah sesuatu yang manusia tidak suka mengerjakannya. Kalau manusia suka melakukannya, untuk apa diwajibkan, Mat?”

Cak Dlahom si sufi dari Madura melontarkan pertanyaan di atas pada Mat Piti, saat mereka sedang debat soal mengapa orang Islam diwajibkan berpuasa.

Pada bab pertama saja rasanya sudah seperti ditampar. Kalau dipikir-pikir iya juga, setiap tahunnya kita diwajibkan puasa Ramadhan. Umumnya umat muslim bersuka cita menyambut kedatangan bulan suci ini.

Tapi sesungguhnya, apa benar kita senang menjalankan puasa? Kalau iya, mengapa masih banyak orang yang dengan sengaja meninggalkan puasa? 

“Alhamdulillah ya, Cak, kita sudah melewati puasa hari pertama.”

“Puasa Ramadan itu hanya untuk orang Islam loh, Mat...”

“Ya iyalah, Cak, untuk orang Islam...”

“Kamu Islam, Mat?”

“Insya Allah saya Islam. Sampean gimana sih, Cak?”

“Lah aku kan Cuma tanya, Mat.”

“Iya, tapi pertanyaan sampean aneh. Sudah jelas saya Islam, malah ditanya apa benar saya Islam.”

“Ya, tapi kapan kamu masuk Islam?”

“Ya sejak dari kecil, Sejak lahir...”

“Syarat masuk Islam itu apa, Mat?’

“Syarat masuk Islam ya baca syahadat. Itu ada di Rukun Islam. Rukun yang pertama.”

“Lalu kapan kamu baca syahadat masuk Islam?"

Percakapan yang cukup menampar untukku, membaca syahadat adalah Rukun Islam yang pertama. Kedua adalah shalat, barulah ketiga adalah menjalankan puasa.

Kita sudah shalat lima waktu, menjalankan puasa, tapi apakah kita sudah mengerjakan Rukun Islam yang pertama? Mengapa terlewati? Atau boleh dipilah pilih ingin mengerjakan rukun yang keberapa?

Bersedekah Pada Nyamuk 

“Kamu sudah tidak bisa menciptakan, membunuhnya, kemudian juga menganggapnya pengganggu. Kamu itu masih merasa paling mulia, Mat.”

Pada bagian cerita dengan judul ini, sungguh aku tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Jadi, ramai orang kampung di masjid yang terkejut melihat kelakuan aneh si Cak Dlahom.

Bagaimana dia tidak dianggap sinting, dia telentang dalam keadaan telanjang di belakang pengimaman. Sontak, melahirkan caci maki warga dan jeritan kaum perempuan.

Saat ditanya apa alasannya melakukan hal tersebut. Dengan santai Cak Dlahom menjawab bahwa ia mau bersedekah. Ya, bersedekah. Tepatnya lagi, sedekah pada nyamuk!

Dalam pikir hemat seorang Cak Dlahom, Allah menciptakan nyamuk antara lain untuk mengisap darah manusia. Supaya manusia tau, kalau ada hak makhluk lain pada dirinya. Dan, mengisap darah merupakan bentuk ibadah nyamuk kepada Allah.

Sementara, selama ini aku (dan mungkin kebanyakan di antara kamu) berpikir bahwa nyamuk adalah makhluk pengganggu. Bekas gigitannya membuat gatal, beberapa perusahaan menciptakan racun pembasmi nyamuk, dengan penuh kuasa kita membasminya, membunuh nyamuk-nyamuk itu yang juga merupakan makhluk ciptaan Allah.

Bagaimana menurutmu? Apakah pikiran Cak Dlahom ini bisa diterima? Apakah memang benar begitu adanya? Rasa-rasanya pengin tanya langsung dengan pak ustad ya, hihi...

Baca cerita ini aku jadi ingat kejadian beberapa minggu lalu, di rumah baruku tiap maghrib, nyamuk selalu mulai berdatangan.

Aku yang biasa menangkap dan membunuhnya langsung merasa puas dong saat tepukan pertama di dinding langsung membuatnya tewas.

Eh, lah dalah... si suami malah menegur dan bilang kalau kita tidak boleh membunuh nyamuk. Kita harus membiarkannya, karna mereka juga ingin hidup sama seperti kita. Ckckckck -.-

Seketika aku berpikir dong, apakah suamiku murid Cak Dlahom? *eh

Menghitung Berak dan Kencing

“Sebulan yang lalu? Setahun yang lalu? Sejak mulai kamu lahir kamu ingat, berapa kali kamu berak dan kecing?”

“Sampean juga ndak ingat toh, Cak?”

“Seperti itulah ikhlas.”

Maaf ya kalau sedikit tidak sopan bahasanya, tapi memang seperti inilah isi dari buku yang tak sengaja kupilih dari deretan buku di rak. Hehe...

Cerita ini berawal dari Mat Piti yang memberikan makanan buka puasa untuk Cak Dlahom. Selain mengucapkan rasa terimakasih, Cak Dlahom juga memberi anjuran pada Mat Piti untuk ikhlas saat bersedekah.

Mat Piti yang merasa ikhlas saat memberikan makanan buka puasa tidak terima, ia memaksa Cak Dlahom untuk menjelaskan apa maksud dari ucapannya itu.

“Tadi kamu ngasih apa aja ya, Mat?”

“Bubur kacang ijo, rawon serantang lengkap dengan nasi, telur asin, kerupuk udang, sambal taoge, Ada teh hangat juga.”

“Wuih, ingat banget kamu, Mat.”

Tak munafik, terkadang kita masih ingat barang apa atau berapa jumlah uang yang kita beri ke orang lain sebagai bentuk sedekah. Sama, seperti si Mat Piti yang ingat betul makanan apa saja yang ia berikan untuk Cak Dlahom.

Inilah yang membuat Cak Dlahom berpesan pada Mat Piti untuk ikhlas jika bersedekah. Karena pada hakikatnya saat kita ikhlas sedekah kita akan melupakan apa dan berapa banyak yang telah kita keluarkan.

Sama seperti kita yang tidak ingat apa dan berapa banyak kotoran yang kita keluarkan saat buang air. Karena keduanya adalah amal perbuatan yang tidak pernah diingat-ingat (mestinya).

Zakat dan Sekantong Taek

Buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya Kisah Sufi dari Madura
Buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya Kisah Sufi dari Madura

Mirip cerita sebelumnya masih bahas soal kotoran, hehe... Pada bagian cerita ini Cak Dlahom ditunjuk orang kampung untuk mengisi ceramah di masjid.

Bukannya berceramah, ia malah memberi kesempatan kepada jamaah yang hadir untuk bertanya apa saja. Di sana lah ada anak muda yang bertanya terkait zakat, ia penasaran apa itu zakat menurut Cak.

Segera saja Cak menjawab bahwa zakat adalah kotoran. Sama dengan sedekah katanya, infak, dan lain sebagainya juga. Kita harus membuangnya, jangan dieman-eman Cak bilang.

Disahutinya oleh si anak muda yang bertanya itu, kalau zakat fitrah kan ada ketentuannya. Dengan santai Cak menjawab bahwa orang-orang mengeluarkan zakat minimal sesuai dengan ketentuan, itulah tabiat orang kikir, mereka hanya mau yang minimal.

Tetapi, kalau memang mampunya segitu ya tidak apa-apa. Tetapi yang jelas, zakat, sedekah, dan lainnya menurut Cak Dlahom adalah kotoran. 

Coba, adakah orang yang eman-eman saat buang air? Membuangnya sedikit-sedikit? Maka, pilihannya adalah menyimpan terus kotoran atau membuangnya tanpa takut. Sama seperti berderma.

Masalah Manusa Sama: Sekepalan Tangan

Bagian cerita ini Romlah si kembang desa galau karena di usianya yang ke-29 tahun masih belum bertemu dengan jodohnya.

Meskipun Cak Dlahom dianggap sinting orang sekampung, namun sebenarnya ia yang pernah belajar ilmu agama di pesantren ini selalu mampu menjawab dan memberi solusi terkait agama. Dan, walau sinting, ia juga dianggap orang penting di kampung itu.

Itulah mengapa Romlah mendatangi Cak Dlahom untuk mencari jalan keluar dari persoalannya terkait jodoh tersebut.

Cak Dlahom kemudian mengajak Romlah ke telaga, namun sebelumnya ia menyuruh Romlah untuk mengambil air segelas dan garam segenggam.

Romlah yang nurut, kemudian diminta Cak Dlahom untuk memasukkan jari telunjuknya ke genggaman garam lalu mencelupkannya ke air.

Setelah Romlah mengaduk rata air dalam gelas itu, lalu ia meminumnya sebagaimana perintah Cak Dlahom. Jelas rasanya asin, ya asin meskipun barangkali hanya sepujuk jari garam itu tercampur dengan air segelas yang dibawa Romlah.

Kemudian, dengan masih menggenggam garam di tangan kiri, Romlah berjalan ke telaga bersama Cak Dlahom. Mereka melewati pinggiran kali dan sawah, sesekali Romlah terpleset. Setelah menembus kuburan yang penuh pohon besar akhirnya mereka tiba di telaga.

Romlah napasnya ngos-ngosan, Cak Dlahom bertanya apakah Romlah haus, jelas iya jawaban Romlah.

Lalu, Cak Dlahom menganjurkan Romlah untuk meminum air di telaga itu, tapi sebelumnya ia meminta Romlah untuk melempar garam yang ada di genggaman tangannya tadi.

Setelah tak ada sisa garam di tangannya, ia mengambil air telaga dan meminumnya. Cak Dloham bertanya perihal rasa air yang Romlah minum. Dijawabnya Romlah air itu segar, membuatnya segar, dan tidak asin sama sekali.

Petuah Cak Dlahom, masalah dan persoalan manusia pada hakikatnya sama: hanya sekepalan tangan. Sama seperti garam yang tadi ada di genggaman Romlah. Hidup bisa menjadi asin (berat) atau menyegarkan (ringan) tergantung manusia dalam menempatkan hatinya. Menjadi hanya sebatas air di gelas atau seluas air di telaga.

Kali kesekian bagian cerita dalam buku ini menamparku, terkadang aku merasa berat dan tak kuasa melewati sebuah masalah dan persoalan dalam hidup. Padahal, sejatinya Allah tidak akan memberi cobaan pada hamba-Nya di luar batas kemampuan kita, bukan?

Dia Sakit dan Kamu Sibuk Membangun Masjid

Orang sekampung selain menganggap Cak Dlahom gila, mereka juga memandang ia orang penting. Hal ini terbukti dari rencana pembangunan masjid yang masih tertunda karena Cak Dlahom tidak setuju.

Ia menentang ide perluasan masjid dengan sumber dana yang diperoleh dari meminta-minta sumbangan pada orang yang dianggap mampu, dan meminta-minta sumbangan pada orang yang lewat di depan masjid dengan menutup separuh jalan.

Cak Dlahom berpikir, mau membangun masjid kok harus meminta-minta. Padahal belum tentu orang yang dimintai sumbangan berniat betul untuk menyumbang. Karena bisa saja ia memberi sumbangan hanya untuk pamer jumlah sumbangan, atau karena merasa tidak enak kalau tidak menyumbang.

Pada bab ini diceritakan, istri Bunali meninggal dunia. Bunali adalah salah satu warga kampung yang telah lebih dulu berpulang ke rahmatullah.

Malam itu juga jenazah istri Bunali dikebumikan, lalu keesokan harinya Cak Dlahom mengajak Gus Mut, adik ipar Romlah (yang akhirnya menikah dengan pemuda kampung sebelah) ke makam istri Bunali.

Sesampai di makam, Cak Dlahom meraung raung menangis sejadi-jadinya, seraya berkata “Ya Allah... ampuni diriku... ampuni orang-orang kampung ini...”

Kalimat itu terus diulang-ulangnya, dan membuat Gus Mut kebingungan. Tangisan Cak menjadi jadi seraya ia bersujud dan memukul mukul tanah makam yang masih terlihat basah.

Apa yang diperbuat Cak Dlahom tentu ada sebab dan maksud. Istri Bunali adalah janda, sejak Bunali meninggal, almarhumah bekerja sebagai pembantu di rumah Pak Lurah, dan upahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya yang terpaksa tak bisa melanjutkan sekolah ke SMP karena tak ada biaya.

Serta karena istri Bunali punya utang menumpuk di warung, ibu-ibu di kampung sering membicarakannya, sampai akhirnya mereka tau kalau istri Bunali sakit-sakitan, tapi tak ada seorang pun yang menjenguk.

Hingga akhirnya ia ditemukan mati gantung diri di kusen pintu rumahnya, dari situ Sarkum anaknya jadi yatim piatu.

Cak Dlahom yang dianggap sinting itu kemudian bikin ulah lagi dan membuat kampung heboh. Selepas subuh ia menumpahkan tanah kuburan di halaman masjid.

Melihat hal itu, Pak RT mencoba menegur, “Cak, itu tanah kuburan untuk apa dibawa kemari?”

“Tidakkah masjid ini butuh sumbangan untuk diperluas, Pak RT?” Jawab Cak Dlahom dengan santai.

Tapi Pak RT menjawab bahwa bukan tanah yang dibutuhkannya. Terjadi adu mulut antara Pak RT dan Cak Dlahom yang bilang kalau istri Bunali berpesan untuk menyumbangkan tanah kuburnya ke masjid supaya masjid jadi megah.

Namun Pak RT tetap bersikukuh bahwa bukanlah tanah kuburan yang dibutuhkan, ia kemudian memberi penjelasan kalau masjid saat ini sudah jelek dan butuh renovasi.

Cak Dlahom kemudian berujar, “Merenovasi masjid kini menjadi lebih penting ketimbang memperbaiki dan memperbagus kelakuan. Umat sekarang diajak lebih tergantung pada masjid ketimbang masjid yang tergantung pada umat. 

“Diajak aktif membangun masjid, tapi membiarkan orang-orang seperti istri Bunali terus tak berdaya lalu mati. Diajak rela menyodorkan sumbangan ke mana-mana untuk membangun masjid, tapi membiarkan Sarkum anak Bunali tidak bersekolah dan kelaparan. 

“Kita bahkan tidak menjenguknya. Tidak pernah tahu keadaan mereka. Lalu apa sesungguhnya arti masjid ini bagi kita? Apa arti kita bagi masjid ini?”

Semua orang terdiam, dan menunduk termasuk si pak RT. Tak ada yang berani. Memang benar adanya toh apa yang diucapkan Cak Dlahom itu?

Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya

Menurut aku pribadi, ini cerita yang bagus sekali. Tidak hanya menghibur dengan ceritanya, tapi juga ada banyak pesan baik yang disampaikan dan dikemas dengan apik oleh si penulis.

Selain itu, menurutku si penulis juga cukup berani mengemas cerita yang cukup menyentil. Apalagi di tengah bangsa kita yang sensitif terhadap isu agama.

Baiklah, cukup sekian ya cuap-cuap mengenai buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura. Semoga menginspirasi, dan memberikan pelajaran untuk kita semua. See you!
Share this Article

Terimakasih ya sudah berkunjung dan membaca artikel di blog ini. Komentar kamu akan muncul setelah disetujui, SPAM dan link hidup otomatis dihapus.

9 comments:

  1. Howaaa makasih sudah di mentioned dalam artikel mu.

    Buku ini dari judulnya saja sudah menarik. Karakter Cak Dlahom yang nyentrik juga, mendukung pemikirannya yang tidak biasa, dan memang kasus di dalam ceritanya sempat juga menjadi pertanyaan buat kita seperti misalnya soal kewajiban itu dan syahadat. Kritik sosial terhadap kepedulian sesama juga mewakili suara hati kebanyakan orang. Thumbs up.

    ReplyDelete
  2. Sedih juga terharu... ;(

    ReplyDelete
  3. Menarik ya cerita Cak Dlahom (agak susah ya bacanya, hehe) ini. Banyak dari bagiannya yang sedikit menyentil kita tentang sedekah, menelantarkan anak yang seharusnya sekolah. Kayaknya cocok ini dibaca sama orang-orang yang mau jadi calon kepala daerah, eh :D

    ReplyDelete
  4. Aku jadi teringat ungkapan beberapa rekan: bodoh saja belum. Mirip begini juga mungkin, ya. Kalau udah diskusi soal filsafat hidup begini seringnya aku pilih melipir aja sambil nyimak, hehe. Tapi soal sedekat kotoran itu pernah dengar sih disebutkan di kajian.

    ReplyDelete
  5. Aku juga udah baca nih bukunya. Banyak cerita sederhana yang membuat semakin tertampar dan malah bikin berpikir semakin mendalam. Salah satu buku favorit dengan cerita yang tmengalir tapi tidak menngurui.

    ReplyDelete
  6. Ini mirip sama cerita Abu Nawas gitu gak sih mbak?

    ReplyDelete
  7. masya Allah baca judulnya masih galfok, tapi isinya jleb semua nampaknya. jadi pingin baca juga.

    ReplyDelete
  8. Aku juga udah baca ini nih. Al Fatihah untuk almarhum Cak Rusdi. Mudah-mudahan tulisan beliau jadi amal jariyah.
    Banyak nyentil banget, andai Pejabat istana baca buku ini yaa :')

    ReplyDelete
  9. Yaash ini salah satu buku favorit juga. Seneng banget sama cara menulis almarhum cak Rusdi. Dari semua kisah cak Dlahom, saya suka yg Membakar Surga, Menyiram Neraka. Banyak ditemukan contohnya di kehidupan, ndakik beribadah, hapal ayat, tapi lupa amalan sesama manusia. Islam kan ngajarin hablum minallah, hablum minannas dan hablum minal

    ReplyDelete