Semua Berubah Setelah Melahirkan Anak Pertama

Wednesday, October 19, 2022 : 13:07
Semua Berubah Setelah Melahirkan Anak Pertama
Semua Berubah Setelah Melahirkan Anak Pertama

Kurang lebih empat bulan tidak menulis di blog ini. Aneh rasanya, seperti ada yang kurang. Seperti tak biasanya. Namun, begitulah kenyataannya.

Aku tidak bisa seperti teman-teman blog lainnya yang terus aktif menulis apapun yang terjadi. Saat hamil, mereka menulis pengalaman kehamilan mereka. Setelah melahirkan, mereka juga menulis pengalamannya.

Bahkan seiring anak-anak mereka tumbuh, pun juga mereka tuliskan di blog kesayangannya. Tapi ternyata aku tidak se-konsisten itu dalam menulis di blog. Haha.. sedih, tapi pengin menertawakan diri sendiri juga😂

Akhirnya hari ini, Jumat pagi pukul 6 setelah aku menyelesaikan tugas dari klien. Tiba-tiba jari jemari dengan sendirinya mengetik URL blog pribadi. Lanjut membuka tab baru dan langsung membuat postingan ini. Haha lucu... tiba-tiba dapat hidayah dari Tuhan ya😂

Meskipun bingung mau nulis apa. Tapi, berkaitan dengan istirahat sejenak dalam menulis blog. Terlintas merasakan perubahan setelah melahirkan anak pertama.

Semua Berubah Setelah Melahirkan Anak Pertama

Semua Berubah Setelah Melahirkan Anak Pertama
Foto hanya pemanis :)

Menjadi ibu baru dengan nol pengalaman mendorong aku untuk terus belajar. Meskipun dalam perjalanannya, banyak hal benar dan tidak yang membungkus informasi tersebut. Maka, sudah keharusan kita dalam lebih bijak setiap kali mendapat informasi baru.

Tepatnya 11 Maret 2022 lalu, aku berhasil melahirkan anak laki-laki secara pervaginam. Rasa syukur dan bahagia menyelimuti keluargaku. Dan, mulai saat itulah semua berubah.

Memiliki Tanggungjawab Besar

Bukan menjadi beban, karena aku sendiri yang menginginkan memiliki anak. Kurang lebih dalam sembilan bulan pernikahan aku terus berdoa pada Yang Maha Kuasa untuk dianugerahi buah hati.

Hingga akhirnya, melalui progam hamil dengan dokter ternama di kotaku doaku dikabulkan. Drama kehamilan pun dimulai. Morning Sickness biasa orang menyebutnya.

Sempat syok dengan tanda-tanda kehamilan pertama, namun berusaha stay cool dan terus update ilmu.

Memiliki anak adalah tanggungjawab besar, bagiku. Karena makhluk bernyawa ini dengan sukarela Allah titipkan padaku. Maka, sudah seharusnya aku rawat dan pelihara dengan sangat baik.

Sempat mengalami baby blues di beberapa bulan awal kelahiran anak menjadi tantangan terbesarku dalam mengelola emosi.

Hanya bisa bergumam, "hmmm, begini ya rasanya..."

Menjadi Lebih Bijak dan Tenang

Dulu, aku orang yang sulit mengelola emosi. Aku tidak bisa terlalu senang dan terlalu sedih. Dalam beberapa kasus, aku begitu mudah tersinggung. Bahkan, pertengkaran kecilpun dengan pasangan membuatku begitu terluka, sakit hati, dan tidak bisa dilupakan.

Aku yang dulu juga sulit mengambil keputusan, bahkan untuk diriku sendiri. Terkadang ceroboh dalam bertindak, namun lambat laun seiring waktu mempertemukan aku dengan anak pertamaku. Aku merasa jadi lebih bijak dan tenang tiap kali menghadapi masalah.

Bijak disini juga termasuk dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Tentu sangat berbeda, awalnya hanya berdua saja dengan suami. Tapi sekarang ada bayi mungil yang juga butuh dana untuk kebutuhan sehari-harinya.

Benar lah adanya jika anak adalah guru bagi orangtua mereka. Meskipun mulanya mereka hanya bayi merah mungil, namun tiap gerak-geriknya adalah pelajaran baru untuk kita.

Termotivasi untuk Terus Belajar

Mau tidak mau aku harus belajar hal baru setelah melahirkan, mulanya aku keberatan dengan itu. Namun, lama-kelamaan sekadar mempelajari bagaimana cara memandikan bayi, cara menyusui yang tepat, hingga mencari tahu mengapa bayi baru lahir kuning menjadi hal yang sangat mengasyikkan.

Dari situ, aku termotivasi untuk terus belajar. Baik dari membaca artikel di internet, hingga bertanya langsung dari mereka yang sudah lebih dulu memiliki pengalaman mempunyai anak pertama.

Kalau dulu akun-akun Instagram yang aku follow hanyalah teman dekat, teman ring 2, 3, dan artis-artis. Kini mulai dari akun dokter, ahli gizi, hingga akun resmi WHO Indonesia-pun aku ikuti demi mendapat wawasan baru.

Ternyata, belajar tentang tumbuh kembang anak semenyenangkan itu. Ditambah ilmu baru tersebut bisa aku langsung praktekkan pada anakku.

Serunya lagi, dalam dunia mengasuh anak ini pasti akan kita temukan metode jadul dan modern. Membuat rumah jadi ramai dengan perdebatan. Haha...

Untungnya, orangtuaku maupun mertua sama-sama open minded soal mengasuh anak. Meskipun mereka generasi baby boomers namun merreka tidak menutup mata dan telinga dengan kajian ilmiah baru di era modern.

Mereka memberi kebebasan untukku dan suami dalam memiliki pola asuh anak sendiri. Sehingga, perdebatan yang terjadi hanya sekadarnya saja.

Lebih Bersyukur dengan Apa yang Dimiliki

Setelah melahirkan anak pertama, aku juga jadi lebih bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini. Menuruku, Allah amatlah baik padaku. Tanpa sadar, sedikit demi sedikit doa-doa yang dulu pernah kupanjatkan terkabulkan.

Banyak kemudahan yang aku dapatkan selama mengurus anak pertamku. Selain itu, banyak pula kudapat 'rejeki' dalam bentuk orang-orang baik di sekelilingku.

Sehingga benar lah sepenggal ayat dalam Al-Qur'an yang berbunyi, "Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang Kamu Dustakan?"

Tidak ada! Semua nikmat ini sangat aku syukuri. Terlebih, masih diberi napas setelah mengejan adalah anugerah paling terindah! Emak-emak must be relate, kan? Hehe...

Rasa syukur aku juga diuji dengan hakiman-hakiman orang lain yang membanding-bandingkan anak-anaknya dengan anakku. Di situlah aku berusaha untuk tetap menerima segala kekurangan anakku dan tentunya bersyukur atas kelebihan yang dimiliki anak pertamaku.

Niche Konten Jadi per-MPASI-an

Satu hal yang mencolok lagi setelah melahirkan anak pertama adalah niche konten di media sosialku mendadak jadi masak-masak MPASI. Haha.. yah, berhubung anak pertamaku sudah memasuki masa MPASI.

Berusaha untuk tetap netral dan menjadi audien yang bijak dalam membaca dan menonton konten para emak-emak di media sosial. Arus tren yang dipopulerkan para artis dan influencer juga jadi ombak yang membuat aku kadang terombang-ambing memilih antara mengikutinya atau tidak.

Karena, tidak semua konten yang kita lihat di media sosial benar dan boleh ditiru. Jujur saja, sepakat kan?

Maksudnya sekarang ini banyak ibu-ibu yang bikin konten hanya karena ikut-ikutan tren orang barat. Dimana metode tersebut belum tentu pas diterapkan kita.

Masih absurd ya penjelasanku? Gini deh, salah satu contohnya salah satu artis yang rutin bikin video saat anaknya makan dengan metode BLW.

Dari situ, para pengikutnya dan ibu-ibu baru yang banyak belajar melalui media sosial akhirnya menyontohkan pada anaknya yang baru berusia 6 bulan awal memulai MPASI.

Nyatanya, seperti kata dr. Meta dan dr. Tan, metode tersebut tidak direkomendasikan karena berbagai alasan. Mana pula BLW yang dilakukan artis tersebut langsung pakai makanan padat utuh seperti layaknya orang dewasa.

Selain khawatir tersedak, si bayi juga tidak seharusnya langsung makan makanan utuh seperti paha ayam, dll. Karena masa MPASI sejatinya masa belajar bayi transisi mengonsumsi dari makanan cair (ASI) ke makanan padat. Maka bubur uleg/ saring adalah yang paling tepat.

Maaf ya kalau soal ini ada yang tidak sepakat. Ini hanya pendapatku saja.. hehe...

Mungkin ada perubahan-perubahan lain lagi setelah melahirkan anak pertamaku yang tidak kesebut di postingan ini. Haha, maklum.. setelah melahirkan juga sepertinya memori otakku jadi lebih lemah. Mudah lupa dan suka linglung. Adakah yang sama?

Terakhir, aku hanya mau apresiasi para ibu-ibu dimanapun berada. Kalian sungguh luar biasa! Baik yang full ibu rumah tangga, apalagi si ibu pekerja.

Karena setelah merasakannya sendiri, aku tahu bagaimana lelahnya, menguras emosi, dan menguji kesabaran. Semangat untuk kita semua para ibu dan calon ibu! Love you all💙

Share this Article

Saat ini 0 Comments :